Bukan Sekadar Produk tapi Bentuk Tolong-Menolong
INDRAPURA.ID – PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) terus memperluas edukasi literasi asuransi kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang merupakan nasabah PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Surabaya. Dalam kegiatan bertajuk “Literasi Asuransi untuk Negeri” yang digelar di Surabaya, Askrindo bersama Dewan Asuransi Indonesia (DAI) mengajak pelaku UMKM memahami pentingnya perlindungan usaha melalui asuransi sebagai bagian dari budaya gotong royong modern.
Direktur Utama Askrindo M. Fankar Umran menuturkan, banyak pelaku UMKM nasabah PT PNM yang belum menyadari pentingnya asuransi dalam menjaga keberlanjutan usaha mereka.“Asuransi bukan hanya soal premi, tetapi soal perlindungan. Dengan asuransi, aset usaha seperti toko, gerobak, atau tempat produksi terlindungi dari risiko kebakaran, pencurian, atau bencana alam. Kami ingin UMKM tumbuh dengan aman dan berkelanjutan,” ujarnya.
Fankar menambahkan, asuransi juga memiliki manfaat sosial.“Melalui asuransi mikro, para pelaku usaha dapat memberikan perlindungan kepada karyawannya. Jika terjadi risiko kecelakaan atau kematian, asuransi membantu menjaga kesejahteraan keluarga karyawan. Ini bentuk nyata kepedulian dan keberlanjutan,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Askrindo berharap masyarakat semakin sadar bahwa berasuransi bukanlah beban, melainkan bentuk kesiapan menghadapi risiko.“Kami ingin menanamkan bahwa asuransi adalah bagian dari gaya hidup finansial yang sehat. Dengan memahami dan memilikinya, masyarakat bisa hidup lebih tenang dan usaha bisa terus berjalan,” tutup Fankar.
Kegiatan literasi ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Asuransi Nasional 2025, dengan tema “Pahami – Miliki – Lindungi”. Tahun ini, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menjadi pelaksana kegiatan nasional, di bawah koordinasi DAI, yang diketuai oleh Muhammad Iqbal.

Menurut Pimpinan Wilayah Askrindo Jawa Timur, Barly Surachman Jusuf, konsep asuransi sesungguhnya sejalan dengan nilai budaya Indonesia.“Asuransi pada dasarnya adalah bentuk modern dari gotong royong. Dulu masyarakat saling iuran untuk membantu tetangga yang tertimpa musibah. Kini, melalui asuransi, prinsip tolong-menolong itu dijalankan dengan sistem yang lebih tertata dan profesional,” jelasnya.
Barly menegaskan bahwa risiko tidak dapat dihindari, tetapi bisa diantisipasi.“Dalam dunia usaha, risiko adalah hal pasti. Tapi dengan asuransi, kita punya pegangan. Premi yang dibayarkan kecil, tapi manfaatnya bisa besar saat musibah datang. Ini yang perlu dipahami oleh pelaku UMKM,” katanya.
Ketua Panitia Hari Asuransi 2025, Muhammad Iqbal, menyebutkan kegiatan literasi digelar di 10 kota di Indonesia, termasuk Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, dan Denpasar. Puncak peringatan akan berlangsung di Bali pada 18 Oktober 2025.Kami ingin menjadikan literasi asuransi sebagai gerakan nasional. Data survei terbaru menunjukkan literasi asuransi meningkat menjadi 45,45%, dan inklusi naik menjadi 28,5%. Ini bukti edukasi yang dilakukan industri mulai membuahkan hasil,” jelas Iqbal.
Sementara itu, Pemimpin Cabang PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Surabaya, Irfan Ardianto, menilai kolaborasi dengan Askrindo sangat strategis karena banyak nasabah PNM yang bergerak di sektor mikro.“Selama ini, sebagian besar pelaku usaha kecil hanya mengenal BPJS. Padahal, ada asuransi usaha yang bisa jadi bentuk investasi jangka panjang. Kalau ada risiko di masa depan, asuransi membantu agar modal usaha tidak habis dan usaha bisa terus jalan,” ujar Irfan.
Irfan juga mendorong para peserta nasabah PT PNM, mayoritas pelaku usaha perempuan, untuk aktif bertanya agar benar-benar memahami manfaat dan mekanisme asuransi.“Tujuan kegiatan ini bukan hanya mengenalkan produk, tetapi menumbuhkan kesadaran. Dengan memahami lebih dalam, ibu-ibu pelaku UMKM bisa menilai sendiri pentingnya perlindungan usaha,” tutupnya.

