Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Republik Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menghadiri kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Senin (4/8/2025).
Kehadiran AHY di Graha ITS sekitar pukul 14.45 WIB disambut hangat oleh 6.993 mahasiswa baru dan civitas akademika. Turut mendampingi AHY dalam kunjungan ini, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Rektor ITS Prof. Ir. Bambang Pramujati, mantan Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Mohammad Nuh, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, serta perwakilan Ikatan Alumni ITS (IKA ITS).
“Atas nama ITS, terima kasih kepada Menko AHY yang telah menyempatkan hadir dalam agenda penting ini,” ujar Prof Bambang Pramujati dalam sambutannya.
Dalam orasi kebangsaannya, AHY menegaskan bahwa kunjungannya ke ITS bukan hanya sebagai pejabat negara, tetapi juga sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan tinggi nasional. Ia menyapa mahasiswa dari berbagai penjuru tanah air—dari Papua, Kalimantan, Bali, hingga seluruh provinsi di Indonesia.
“Menjadi mahasiswa ITS adalah pencapaian besar dan langkah awal menjadi agen perubahan bangsa. Selamat dan banggalah menjadi bagian dari kampus ini,” kata AHY.
Dalam kesempatan tersebut, AHY juga memaparkan tiga isu strategis yang penting dipahami generasi muda: tantangan global, kondisi Indonesia saat ini, dan arah masa depan bangsa.
Ia menyoroti berbagai krisis global yang kini memengaruhi tatanan dunia, termasuk konflik geopolitik, perubahan iklim, dan ancaman terhadap kemanusiaan. “Geopolitik terus memanas. Kita tidak bisa terlepas dari dinamika global,” tegasnya.
Tak hanya itu, AHY juga menyoroti pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), yang bisa menjadi pedang bermata dua bagi manusia. Dalam sesi dialog, seorang mahasiswa sempat menyinggung soal ancaman AI terhadap pekerjaan manusia.
“Teknologi seharusnya membantu manusia, bukan justru mengendalikan manusia. Kita harus mampu mengendalikan teknologi secara etis dan bijak,” jawab AHY.
Isu ketiga yang disorot adalah pertumbuhan penduduk yang memberi tekanan besar terhadap daya dukung bumi. AHY menyampaikan keprihatinannya terhadap krisis lingkungan yang mulai terasa secara nyata.
“Krisis ini bukan lagi prediksi, tapi kenyataan yang harus kita hadapi bersama. Ini adalah tanggung jawab generasi kalian,” ujarnya.
Menutup orasi kebangsaannya, AHY mengajak seluruh mahasiswa ITS untuk terus belajar, berpikir kritis, dan memiliki wawasan global tanpa kehilangan cinta tanah air.
“Jadilah generasi yang tangguh, pembelajar sejati, dan pemimpin masa depan. Kalian adalah harapan bangsa,” pungkasnya.


