Sabtu, Desember 6, 2025
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Keluarga Marsinah Ucap Rasa Syukur, Keluarga Gus Dur Berharap Tak Lupakan Semangat Nilai Perjuangan Gus Dur

INDRAPURA.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim menggelar tasyakuran penuh haru sebagai ungkapan syukur atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah, sosok buruh perempuan asal Nganjuk yang gugur memperjuangkan keadilan bagi pekerja. Gelar tersebut dianugerahkan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara.

Tasyakuran dilaksanakan dua kali, diawali dengan tasyakuran atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah, sosok buruh perempuan asal Nganjuk yang gugur memperjuangkan keadilan bagi pekerja. Dan kepada KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

Gus Dur sebagai sosok lintas batas yang mewakili nilai kemanusiaan universal. Penganugerahan ini diberikan atas perjuangan Gus Dur dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Gus Dur adalah Bapak Pluralisme Indonesia, simbol toleransi lintas agama, sosok yang konsisten memperjuangkan kerukunan antar umat. Sedangkan tasyakuran Syaikhona Kholil juga akan diselenggarakan dalam waktu dekat.K

eputusan Presiden Nomor 116/TK Tahun 2025 menempatkan Marsinah sejajar dengan tiga tokoh besar lain penerima gelar Pahlawan Nasional asal Jawa Timur tahun ini, yakni Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dan ulama kharismatik Syaikhona Kholil dari Bangkalan. Ketiganya menjadi simbol perjuangan rakyat, spiritualitas, dan kemanusiaan dari berbagai lapisan masyarakat.

Pada momen tersebut, Marsini, kakak almarhumah Marsinah tak mampu menahan air mata. Dengan suara bergetar, ia mengucap rasa syukur atas penghargaan yang diterima adiknya. “Alhamdulillah, saya berdiri di sini berkat adik saya. Terima kasih kepada Ibu Gubernur, Bupati Nganjuk, TP2GD, Presiden, SPSI, dan semua buruh yang mendukung perjuangan ini. Kini perjuangan Marsinah diakui negara,” ujarnya.

Begitu kugat Istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid didampingi anaknya Yeni Wahid mengungkapkan, perjuangan Gus Dur tidak pernah dimaksudkan untuk mendapatkan gelar atau kedudukan.

Menurutnya, Gus Dur berjuang karena keyakinan bahwa masyarakat yang adil dan setara adalah cita-cita yang harus diperjuangkan, bukan diwariskan begitu saja. “Gus Dur tidak pernah mengejar gelar. Beliau hanya mengikuti suara hatinya untuk menegakkan keadilan bagi semua,” ungkapnya.

Pengakuan negara atas jasa Gus Dur bukan semata bentuk penghormatan, melainkan juga pengingat bagi bangsa ini agar tidak melupakan nilai-nilai yang beliau perjuangkan. “Kami berharap semangat Gus Dur terus hidup dalam diri generasi muda, semangat untuk memperjuangkan kemanusiaan, kesetaraan, dan kebebasan berpendapat,” katanya.

Sebelumnya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong agar Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk tempat kelahiran Pahlawan Nasional Marsinah dikembangkan menjadi wisata edukatif perjuangan buruh. Ia menilai desa kelahiran Marsinah memiliki nilai historis yang kuat dan perlu dirancang sebagai ruang pembelajaran sosial.

“Kami mengajak Pemkab Nganjuk melakukan assessment untuk menyiapkan sarana pendukung desa wisata edukatif, agar bangunan heroisme itu tetap tumbuh,” kata Gubernur Khofifah.

Disisi lain, Gubernur Khofifah juga menggambarkan Gus Dur sebagai sosok lintas batas yang mewakili nilai kemanusiaan universal. Menurutnya, penganugerahan ini diberikan atas perjuangan Gus Dur dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. “Beliau adalah Bapak Pluralisme Indonesia, simbol toleransi lintas agama, sosok yang konsisten memperjuangkan kerukunan antar umat,” ujarnya.

Gubernur Khofifah menambahkan, semasa hidupnya Gus Dur mengabdikan diri di bidang politik, pendidikan, keagamaan, dan kebudayaan. Sebagai ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama, Gus Dur menunjukkan konsistensi dalam membela kaum lemah dan menjaga martabat kemanusiaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles